Kamis, 16 Mei 2013

Dinasti Abbasiyah


BAB I
PENDAHULUAN
            Sejak runtuhnya Dinasti Bani Umayyah, maka kepemimpinan Islam digantikan oleh Dinasti Bani Abbasiyah. Dinamakan Abbasiyah karena para pendiri serta para khalifah dinasti ini merupakan  keturunan dari Al-Abbas yang merupakan paman Nabi Muhammad SAW.
            Dalam makalah ini akan membahas beberapa masalah yang berkaitan tentang Dinasti Bani Abbasiyah,antara lain :
A.    Awal berdirinya Dinasti Bani Abbasiyah
B.     Sistem pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah
C.     Perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam pada masa Dinasti Bani Abbasiyah
D.    Dinasti-dinasti yang memerdekakan diri
E.     Faktor-faktor penyebab kemunduran dan akhir dari kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah
Yang diharapkan akan memberikan informasi tentang Dinasti Bani Abbasiyah,sehingga pembaca dapat mengambil ibrah dari sejarah Dinasti ini.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Awal  Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah berkuasa melanjutkan dinasti sebelumnya, yakni Dinasti Bani Umayyah. Dinamakan Khilafah Abbasiyah karena para pendiri serta penguasa dinasti ini merupakan keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah Al-Saffah ibn Ali ibn Abdullah ibn Al-Abbas. Dia dilahirkan di Humamah pada tahun 104H. Dia dilantik menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awwal 132H.[1]
Sebelum daulah Abbasiyah berdiri, terdapat 3 tempat yang menjadi pusat kegiatan kelompok Bani Abbas. Tiga tempat itu adalah Humamah, Kufah dak Khurasan.
Humamah merupakan kota kecil dekat Damsyik. Humamah merupakan tempat keluarga Bani Hasyim bermukim, baik dari kalangan Ali maupun  pendukung keluarga Abbas. Kufah merupakan kota yang penduduknya menganut aliran Syi’ah pendukung Ali bin Ali Thalib. Mereka secara terang-terangan bermusuhan dengan golongan Bani Umayyah. Sedangkan Khurasan merupakan kota yang penduduknya mendukung Bani Hasyim.
     Kekuasaan Dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132H(750M) s.d. 656H (1258M). Selama dinasti ini berkuasa, pola yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik,sosial dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi lima periode: [2]
1.      Periode Pertama (132H/750M – 232H/847M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
2.      Periode Kedua (232H/847M – 334H/945M), disebut masa pengaruh Turki pertama
3.      Periode Ketiga (334H/945M – 447H/1055M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan Khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia Kedua.
4.      Periode keempat(447H/1055M – 590H/1194M), masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan Khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki Kedua.
5.      Periode Kelima (590H/1194M – 656H/1258M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tapi kekuasaan hanya efektif disekitar kota Baghdad.

       Pada periode Pertama, pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam.
       Pemerintahan Abu Al-Abbas sebagai pendiri dinasti ini sangat singkat yaitu dari tahun 750M sampai 754M. Oleh karena itu, pemerintahan sebenarnya dari daulah Abbasiyah adalah Abu Ja’far Al-Manshur(754-775M). Untuk mengamankan kekuaaannya, selain menekan lawan-lawannya dari Bani Umayyah, Khawarij, serta Syi’ah, Abu Ja’far Al-Manshur juga mengamankan kekuasaannya dari para tokoh besar yang dianggap sebagai pesaingnya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya merupakan pamannya sendiri yang menjadi gubernur di Syiria dan Mesir. Namun karena tidak bersedia membaiatnya, kemudian Abu Ja’far memerintahkan Abu Muslim Al-Khurasani untuk membunuh keduanya. Namun selanjutnya Abu Muslim Al-Khurasani juga di hukum mati karena dikahwatirkan akan menjadi pesaingnya.
       Awalnya ibu kota negara adalah Al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun Al-Manshur memindahkan Ibu kota Negara ke kota Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia untuk menjaga stabilitas negara. Pada tahun 762M, Al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya di ibu kota yang baru ini.
B.     Sistem Pemerintahan
            Pada zaman Abbasiyah konsep khalifah berkembang sebagai sistem politik. Al-Manshur mengartikan khalifah adalah berasal dari Allah, bukan dari rakyat sebagaimana dipublikasikan oleh Abu Bakar dan Umar pada zaman khulafaurrasyidin. Selain itu pada masa pemerintahan Abbasiyah juga memakai “gelar tahta”, seperti Al-Manshur adalah gelar tahta dari Abu Ja’far, yang pada perkembangannya nama tersebut lebih popular daripada nama aslinya.
            Pola pemerintahan yang diterapkan pada zaman Abbasiyah antara lain:
a.)    Para khalifah tetap keturunan Arab, namun untuk menteri, panglima, Gubernur serta para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali.
b.)    Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota Negara, yang kemudian menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.
c.)    Ilmu pengetahuan dianggap sangat penting dan kebebasan berfikir merupakan hak asasi manusia yang mendapatkan pengakuan sepenuhnya.
            Puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudah Abu Al-Abbas dan Abu Ja’far Al-Manshur yaitu Al-Mahdi (775-785M), Al-Hadi (785-786M ), Harun Al-Rasyid (786-809M), Al-ma’mun (813-833M), Al-Mu’tashim (833-842M), Al-Wasiq (842-847M), dan Al-Mutawakkil (847-861M). Namun puncak kejayaan pada zaman khalifah Harun Al-Rasyid dan putranya Al-Ma’mun. Pada masa itu kekayaan dimanfaatkan untuk kepentingan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan farmasi didirikan. Saat itu terdapat sekitar 800 dokter.
                        Dibidang pertahanan , para Khalifah Abbasiyah mengantisipasi akan adanya gangguan dari pemberontak dengan berbagai tindakan yaitu: tindakan keras terhadap Bani Umayah dan pengutamaan orang-orang keturunan Persia. Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Abbasiyah dibantu oleh seorang wazir (perdana mentri) serta jabatannya disebut dengan wizarat. Wizarat dibagi menjadi 2: [3]
1)      Wizaraat tanfiz (pemerintahan presidentil), yaitu wazir hanya sebagai pembantu khalifah dan bekerja atas nama khalifah
2)      Wizaraatut tafwidl (parlemen kabinet), wazir berkuasa penuh untuk memimpin pemerintahan dan khalifah hanya sebagai lambang saja.

C.    Perkembangan Kebudayaan dan Pemikiran Islam

Puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran islam terjadi pada masa pemerintahan bani Abbas. Dalam bidang pendidikan, lembaga pendidikan sudah mulai ada di awal Islam dengan membagi lembaga pendidikan menjadi dua tingkatan, yaitu:

1.      Maktab/Kuttab dan masjid. Yaitu lembaga pendidikan terendah
2.      Tingkat pendalaman. Para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah untuk menuntut ilmu kepada orang yang ahli dalam bidangnya.

Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan serta kesusastraan mengalami masa keemasannya. Khalifah Al-ma’mun dikenal sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, digalakkan penterjemahan buku-buku asing. Perpustakaan pada masa itu merupakan sebuah universitas. Sekolahan banyak didirikan dan karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan baitul Hikmah, yang fungsinya sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar.
            Gerakan peterjemahan berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah Al-Manshur hingga Harun Al-Rasyid. Pada fase ini banyak diterjemahkan karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua, pada masa Al-Ma’mun Hingga 300H. Buku yang diterjemah adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300H terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang ilmu yang diterjemah semakin meluas.
            Imam-imam madzhab empat hidup pada pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Abu hanifah (700-767M), mazhab ini lebih menggunakan pemikiran rasional karena pendapat-pendapatnya dipegaruhi oleh perkembangan di Kufah yang berada di tengah kebudayaan Persia. Sedangkan Imam malik (713-795M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Sedangkan yang penjadi penengah antara pendapat dua imam sebelumnya adalah Imam Syafi’I (767-820M) dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855M).
            Teologi rasional Mu’tazilah berkembang dan sempurna dirumuskan pada masa periode awal pemerintahan Abbasiyah. Tokoh perumus pemikiran Mu’tazilah adalah Abu Al-Huzail Al-Allaf dan Al-Nazzam. Selain itu, Asy’ariyah yang merupakan aliran tradisional dibidang teologi juga lahir pada masa pemerintahan Abbasiyah. Pemikiran Asy’ariyah dipengaruhi oleh logika yunani karena Al-Asy’ari pada awalnya adalah pengikut Mu’tazilah.
            Selain perkembangan ilmu pengetahuan, dinasti Abbasiyah juga melakukan perluasan wilayah dakwah Islamiyah. Perluasan wilayah tersebut tidak hanya dipimpin oleh perwira dari Arab melainkan ada perwira yang dari keturunan Barbar, seperti Thariq bin Ziyad. Dalam perluasan wilayah, dinasti Abbasiyah hanya membina wilayah-wilayah yang telah ditaklukan oleh dinasti sebelumnya.
            Setelah berhasil menaklukan wilayah Afrika Utara, penaklukan dilanjutkan ke wilayah lain dan dengan dipimpin oleh Thariq bin Ziyad, akhirnya Andalusia berhasil dikuasai oleh Bani Abbas dalam kurun waktu kurang dari setengah abad.
D.    Dinasti-Dinasti Yang Memerdekakan Diri
Disintegrasi sebenarnya sudah mulai terjadi pada akhir zaman Umayyah. Pada zaman Abbasiyah, kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui oleh islam diwilayah Spanyol dan Afrika utara, kecuali Mesir. Banyak wilayah yang tidak dikuasai Khalifah. Hubungan daerah dengan khalifah ditandai dengan pembayaran upeti. Ada kemungkinan bahwa penguasa bani Abbas sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari propinsi. Alasannya adalah, pertama, mungkin khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk. Kedua, penguasa Bani Abbas lebih menitikberatkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. [4]
Kebijakan tersebut mengakibatkan lepasnya beberapa propinsi di pinggiran  dari genggaman Bani Abbasiyah. Dinasti yang melepaskan diri dari kekuasaan Abbasiyah diantaranya:
1.      Berbangsa Persia
            Thahariyah di Khurasan, Shafariyah di Fars, Samaniyah di Transoxania, Sajiyyah di Azerbaijan, Buwaihiyyah, bahkan dinasti ini menguasai Baghdad.
2.      Berbangsa Turki
Thuluniyah di Mesir, Ikhsyidiyah di Turkistan, Ghaznawiyah di Afganistan, Dinasti Saljuk
3.      Berbangsa Kurdi
Al-Barzuqani, Abu Ali, Ayubiyah
4.      Berbangsa Arab
Idrisiyyah di Maroko, Aghlabiyah di Tunisia, Dulafiyah di Kurdistan, Alawiyah di Tabaristan, Hamdaniyyah            di Allepo dan maushil, Mazyadiyyah di Hillah, Ukailiyyah di Maushil, Mirdasiyyah di Aleppo
5.      Yang mengakui dirinya sebagai Khalifah:
a.       Umawiyah di Spanyol
b.      Fathimiyah diMesir.

E.     Kemunduran dan Akhir Kekuasaan Dinasti Abbasiyah

1.      Faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dinasti Abbasiyah
a.       Faktor internal

Ø  Persaingan antar Bangsa
Dinasti Abbasiyah terdiri dari beberapa bangsa dan kecendrungan masing-masing bangsa untuk mendominsai kekuasaan sudah dirasa sejak awal mula berdirinya dinasti Abbasiyah. Inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab stabilitas politik kurang terjaga.
Ø  Konflik Keagamaan
             Konflik yang melatarbelakangi agama tidak hanya terbatas pada konflik antara muslim dan kafir atau Ahlussunah dengan Syi’ah saja, melainkan juga antar aliran dalam Islam.
Ø  Kemrosotan Ekonomi
Kondisi politik yang kurang stabil mengakibatkan perekonomian Negara yang morat-marit karena pemerintahan harus memberikan porsi ekstra untuk anggaran pertahanan. Otomatis ketika kondisi perekonomian buruk mengakibatkan lemahnya kekuatan politik Dinasti Abbasiyah. Faktor ekonomi dan politik ini sangat berkaitan.
Ø  Perkembangan Peradaban dan kebudayaan
Kemajuan pesat yang dicapai dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah. Gaya hidup mewah-mewahan ini kemudian ditiru oleh para hartawan dan anak-anak pejabat sehingga roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin.




b.      Faktor Eksternal

è Perang Salib
Perang salib berlangsung beberapa gelombang dan akibat dari perang ini banyak menelan korban. Perhatian pemerintah Abbasiyah terpecah untuk menghadapi para tentara salib sehingga memunculkan kelemahan-kelemahan.
è Serangan Bangsa Mongol
Serangan dari bangsa Mongol menyebabkan kekuatan Islam menjadi lemah. Dan serangan dari Hulaghu Khan dengan pasukannya menyebabkan kekuasaan Abbasiyah melemah hingga akhirnya menyerah kepada kekuatan Mongol.

2.      Akhir kekuasaan Dinasti Abbasiyah
      Serangan yang dilakukan oleh Hulaghu Khan dengan pasukannya menjadi sebab berakhirnya kekuasaan dinasti Abbasiyah, terlebih ketika kota Baghdad dihancurkan oleh tentara Mongol tersebut pada tahun 656H/1258M. Baghdad dibumihanguskan dan diratakan dengan tanah. Khalifah yang terakhir (Al-Mu’tashim Billah) di bunuh dan buku-buku koleksi Baitul Hikmah dibakar dan dibuang ke sungai Tigris sehingga warna airnya berubah menjadi hitam kelam karena lunturan tinta yang ada pada buku tersebut.
      Akibat serangan tersebut maka lenyaplah kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang telah memainkan peran penting dalam peradaban dan kebudayaan islam.



BAB III
KESIMPULAN

Dinasti Bani Abbas berhasil memerankan peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan serta peradaban. Dinasti ini dapat bertahan hingga lima abad lamanya (749M-1258M) dengan dipimpin oleh 37 khalifah. Keberhasilannya merupakan bukti kejayaan islam saat itu. Ilmu pengetahuan sangat maju pesat, gerakan penterjemahan teks berbahasa asing digalakkan serta pemerintahan terbuka bukan hanya dipegang oleh orang arab saja.
Keberhasilan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan ternyata tidak diimbangi dengan keberhasilan dibidang lain, yakni pertahanan dan politik. Kedua hal tersebut kemudian yang menyebabkan kehancuran dinasti Abbasiyah pada tahun 1258M atas serangan yang dilakukan oleh bangsa Mongol dibawah pimpinan Hulaghu Khan.







DAFTAR PUSTAKA

            Mubasyaroh. Sejarah dakwah. Kudus: NORA MEDIA ENTERPRISE. 2010.

Yatim, Badri. Dr., M.A. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II.  Jakarta:       RAJAWALI PERS. 2010.

  Drs. Samsul Munir Amin. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: AMZAH. 2010.


[1] Mubasyaroh. Sejarah dakwah. (Kudus: NORA MEDIA ENTERPRISE. 2010), hlm. 66
[2] Yatim, Badri. Dr., M.A. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II.  (Jakarta: RAJAWALI PERS. 2010), hlm. 49
[3] Mubasyaroh. Sejarah dakwah. (Kudus: NORA MEDIA ENTERPRISE. 2010), hlm. 69
[4] Drs. Samsul Munir Amin. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta: AMZAH. 2010), hlm. 153

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar